Pagi di Warung Sari

Pagi di Warung Sari

Pagi ini rencana aku ingin ikut pengajian asramadi masjid dekat kos pukul 07:30, aku bangu tidur pukul 05:00, aku bergegas turun dari tempat tidurku dan bergegas mencari air wudhu untuk sholat subuh, setelah selesai sholat aku terlena dalam rayuan mata yang masih enggan mengintip dunia, kurebahkantubuh seraya mengikuti mata untuk terlelap.
            Suara yang keluar dari ponselku nyaring terdengar olehku,
“ah alarm sialan”. Dengan malasnya akupun meraba-raba kasurku untuk mencari ponsel sialan itu dan menekan tombol di ponselku tanpa membuka mataku sama sekali sehinggga suara yang sangat cempreng itu lenyap dalam seketika. Aku lanjutkan tidurku, namun selang waktu yang singkat ponselku kembali berbunyi, aku ingin sekali mencopot baterai dari ponselku agar suara alarm itu tidak berbunyi lagi. Aku buka mata dan mengambil ponselku, saat aku ingin membuka tutup ponsel bagian belakang, aku lihat lagi layar ponsel yang mencurigakan, ternyata ponselku berbunyi karena teman di seberang sana sedang meneleponku, aku segera mengangkatnya,
“halo,,”
”Fron, surat untuk perusahaan tempat kita magang masih ada sama kamu nggak? Kalau ada tolong kamu scan dan kirim ke aku. Penting” suara teman dari ujung dunia sana dengan agak kesal.
Tanpa pikir panjang segera aku matikan telepon dari temanku dan mencari surat tersebut, setelah aku buka tas, ternyata surat tersebut terselip dalam proposal skripsiku yang sudah beberapa lama ini tidak aku sentuh sama sekali. Aku berangkat ke tempat print dan scan menggunakan motor tuaku dan tak lupa kusempatkan membasahi wajahku dengan air agar kelihatan tampan sedikit. Sekitar lima belas menit cukup bagiku untuk menscan surat dan mengirimkan surat kepada temanku. Beres....
Mata yang masih ingin terlelap ini merayuku lagi untuk tidur, namun aku lawan dia dengan cara pergi ke warung kopi langgananku, WS (Warung Sari).
“buk, kopi item setengah pahit nggeh”
“seperti biasa a mas? Tumben kok sendiri, lah teman-temannya mana?” sahut Mbak Tin penjaga warung.
“pada pulang semua buk, mumpung ada kesempatan minggu ini tidak ada tugas”
Jawabku.
Sembari menunggu kopi pesananku jadi, akupun mulai memikirkan rencanaku yang dari semalam ingin ngaji pagi ini tadi, namun gara-gara rayuan mata, akupun ketiduran dan tidak jadi ngaji. Namun, seandainya pagi tadi aku ikut ngaji pasti aku tidak bisa membantu temanku untuk mengurus surat magang tadi karena jika aku ngaji pasti ponselku aku tinggal di kamar kosan. Hem,,,,,,,,,
Kopi pesananku telah datang dan disusul hujan deras yang dari tadi seakan ingin segera turun dari awan namun enggan turun sebelum aku mendapat tempat yang tidak kehujanan.
            Hujan turun dengan derasnya, orang-orang berhamburan mencari tempat berteduh, aku melihat ibu-ibu penjual bubur grendol bersama dua anak perempuannya yang sedang sibuk menutupi grendol tempat bubur agar tidak kemasukan air, dan anaknya yang memegangi payung besar agar tidak tertiup angin. Dengan susah payah akhirnya mereka selesai membereskan lapak jualannya dan ikut berteduh di depan teras WS,
“ngapunten mas, kulo tak nunut ngiyup ten mriki nggeh (permisi mas, saya numpang berteduh disini” ujar ibu penjual bubur sembari menggandeng dua anak perempuannya,
“monggo buk (silahkan bu)” jawabku.
Ibu tersebut merapikan baju yang sudah separuh basah dan segera memeluk kedua anak perempuannya, karena salah satu anaknya sangat takut dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar langit. Sambil memeluk kedua anak perempuannya, ibu itu mengeluh,
“huh....... baru mulai jualan sudah hujan begini”
Aku terdiam dan tak menjawab keluha dari ibu itu, aku merenung memikirkan nasib seorang ibu dihadapanku itu, alangkah menyedihkannya nasibnya. Namun sepasang muda-mudi yang baruh datang dan turun dari motornya, berteduh di seberang jalan tepat di depan toko yang sedang tutup membuyarkan lamunanku, mereka basah kuyub, mereka membuka tas dan mengambil ponsel masing-masing, dengan posisi saling bersandar pundak dan duduk di kursi depan toko, mereka saling memperkosa ponsel masing-masing tanpa bicara sepatah katapun pada pasangannya.
            Aku yang melihat kejadian itu merasa keheranan karena tingkah kedua makhluk itu, hahaha,,,,,,,,,,,,,,, aku hanya senyum-senyum sendiri namun dalam hati tertawa karena tingkah sepasang muda-mudi itu.


Komentar

Postingan Populer