SISTEM KERJA MOTOR STARTER TIPE KONVENSIONAL
SISTER KERJA MOTOR STARTER TIPE KONVENSIONAL
MAKALAH
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah
Praktek Kelistrikan
yang
dibina oleh Bapak Marji
Oleh:
Ghufron Nadhori 140513605863
Rizki Yulla K 140513600872

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
April 2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
rahmat, inayah, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah dengan tema Sistem
Starter ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas Praktek Kelistrikan.
Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam bidang pendidikan.
Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini penulis akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
penulis miliki sangat kurang. Oleh kerena itu penulis harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.
Malang, Aplil 2016
Tim Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR......................................................................................
i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar
Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Topik
Pembahasan .................................................................................... 1
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN ................................................................................. 2
2.1 Motor Starter ............................................................................................. 2
2.2 Jenis Sistem Starter ................................................................................... 2
2.3 Fungsi Motor Starter ................................................................................. 3
2.4 Komponen Motor Starter Tipe Konvensional ........................................ 3
2.5 Cara Kerja Motor Starter Tipe Konvensional ....................................... 20
2.6 Overhoul dan
Perawatan Motor Starter pada Toyota Kijang 4k ......... 24
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 44
3.1
Kesimpulan ................................................................................................. 44
DAFTAR RUJUAKAN ................................................................................... 44
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu mesin tidak dapat mulai hidup (start)
dengan serndirinya, maka mesintersebut memerlukan tenaga dari luar untuk
memutarkan poros engkol danmembantu untuk menghidupkan.Hal itulah yang
menyebabkan keharusan adanya sisten starter pada kendaraaa, mobil padaumumnya
menggunakan motor listrik yang digabungkan dengan magnetic switch
yangmemindahkan gigi pinion yang berputar ke ring gear yang dipasangkan ke
padabagian luar dari fly wheel, sehingga ring gear berputar ( dan juga poros
engkol ).
Pada jaman dulu sebelum motor starter ditemukan
untuk menghidupkan kendaraan dibutuhkan tenaga dari seseorang untuk memutar
poros engkol, selain itu ada juga motor starter yang meggunakan energy listrik
namun masih sangat kuno,seiring perkembangan jaman kini telah bayak ditemukan
motor starter yang lebih modern dan tentunya lebih baik.
Motor starter harus dapat menghasilkan momen
yang besar dari tenaga yang kecilyang tersedia pada baterai. Hal lain yang
harus diperhatikan ialah bahwa motorstarter harus sekecil mungkin. Untuk itulah
, motor serie DC (arus searah) umumnya yang dipergunakan.
1.2
Topik Bahasan
Hal-hal yang akan
dibahas dalam makalah ini antara lain: Menjelaskan tentang sistem starter
konvensional dan cara perawatannya
1.3
Tujuan
Adapun tujuan dari
disusunnya makalah tentang sistem starter adalah sebagai berikut.
1.
Mengetahui Sistem Starter
2. Mengetahui Jenis
Motor Starter
2. Mengetahui Fungsi Motor Starter
2. Mengetahui Fungsi Motor Starter
3.
Mengetahui Komponen Komponen Sistem Starter Tipe
Konvensional
4. Mengetahui Cara Kerja Sistem Starter Tipe Konvensional
4. Mengetahui Cara Kerja Sistem Starter Tipe Konvensional
5. Mengetahui Cara Overhoul Motor Starter Konvensional
6.
Mengetahui Langkah-Langkah Overhoul Motor Starter Tipe
Konvensional
pada
Toyota Kijang 4K
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Motor Starter
Definisi Motor Starter
Hadi Sholikhin (2006: 54) mengemukakan mengenai motor starter,
yakni sebagai berikut : motor starter merupakan bagian dari kelistrikan mobil
yang berfungsi merubah energi listrik dari baterai menjadi energi mekanik
berupa gerak putar untuk memutar poros engkol sebagai pemicu gerak awal
guna memperoleh putaran minimum dalam usaha pembakaran”.
Sistem
starter merupakan bagian dari sistem kendaraan untuk memberikan putaran
awal bagi engine agar dapat menjalankan siklus kerjanya. Berdasarkan
kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motor starter merupakan
bagian dari kelistrikan mobil yang berfungsi merubah energi listrik menjadi
energi mekanik untuk memberikan putaran awal bagi engine agar dapat
menjalankan siklus kerjanya.
2.2 Jenis Sistem
Starter
1. Starter Mekanik
Adalah starter yang digerakkan dengan tenaga
manusia, contohnya, kick starter (starter kaki), slenger (starter untuk mesin
diesel, dan beberapa type mobil lama)
2. Starter Elektrik
2. Starter Elektrik
Adalah starter yang sumber tenaganya berasal
dari arus listrik. Starter jenis ini banyak digunakan pada mobil dan saat ini
banyak diaplikasikan pada sepeda motor.
3. Strarter Pneumatik
Adalah starter yang sumber tenagannya dari udara
yang bertekanan. Banyak dipakai pada mesin-mesin kapal laut. Karena mesin kapal
cukup besar, maka digunakan starter jenis ini.
2.3 Fungsi Motor Starter
Daryanto
(2010: 372) mengemukakan mengenai fungsi dari motor starter, yakni :
“motor starter berfungsi untuk memutarkan mesin atau menghidupkan mesin
pada pertama kalinya, jika tombol starter ditekan maka motor starter berputar
karena adanya arus listrik dari baterai dan gigi pinion yang terdapat pada
motor sarter akan menggerakkan roda penerus dari mesin utama, maka jika
roda penerus telah berputar akan mengakibatkan busi menyalakan apinya dan
bensin dari karburator akan mengalir karena dengan berputarnya roda poros
berarti distributor akan berfungsi pula (arus dari baterai akan mengalir
karenanya)”.
Boentarto (1995:
66) mengemukakan bahwa motor starter berfungsi untuk mengubah tenaga
listrik dari baterai menjadi tenaga putar. Hadi Sholikhin (2006: 5)
mengemukakan bahwa fungsi dari motor starter adalah dapat memutar mesin
secukupnya untuk memperoleh putaran minimum dalam usaha memenuhi pembakaran.
Berdasarkan
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi dari motor starter
adalah untuk menghidupkan mesin pada pertama kalinya dengan cara mengubah
tenaga listrik menjadi tenaga putar.
2.4 Komponen Motor Starter Tipe
Konvensional
Motor
starter mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam kendaraan karena
fungsi motor starter yaitu sebagai penggerak awal melalui fly wheel sewaktu
mesin akan dihidupkan. Gerakan tersebut diperoleh dari perubahan energi listrik
menjadi energi mekanik dalam bentuk gerak putar. Untuk menghidupkan mesin untuk
pertama kali, dibutuhkan tenaga yang besar. Motor starter dirancang
untuk dapat mengasilkan tenaga yang besar sehingga dapat memutarkan mesin.

Gambar
2.1. Motor Starter Konvensional

Gambar
2.2. Konstruksi Motor Starter Konvensional
a. Yoke dan Pole Core
Yoke
terbuat dari logam yang berbentuk silinder dan berfungsi sebagai tempat pole
core yang diikat dengan sekrup. Pole core berfungsi sebagai penopang
field coil dan memperkuat medan magnet yang ditimbulkan oleh field
coil.

Gambar
2.3. Yoke dan Pole Core
Field coil dipasang
pada setiap kutub (pole) dengan menggunakan lempeng tembaga dengan
diisolasi satu dengan yang lainnya serta terhadap core yang dihubungkan
secara seri dengan gulungan armature melalui brush. Pada umumnya
setiap motor starter mempunyai empat buah pole core yang diikat
pada yoke core (body starter) dengan sekrup.
b. Field Coil
Pada
starter biasanya digunakan empat field coil yang berarti
mempunyai empat core. Field coil berfungsi untuk menghasilkan
medan magnet yang diperlukan untuk memutarkan armature. Arus listrik
yang yang mengalir ke kumparan medan berasal dari terminal C solenoid. Field
coil adalah kumparan yang dililitkan pada inti kutub yang terbuat dari besi
untuk menghasilkan medan magnet (terbentuk kutub utara dan kutub selatan) pada
saat arus besar mengalirinya. Inti kutub terpasang pada rumah motor starter
(yoke). Inti kutub dan rumah starter berfungsi juga untuk
meningkatkan dan mengkonsentrasikan medan magnet yang dihasilkan kumparan
medan. Kumparan medan terbuat dari kawat tembaga persegi dengan luas penampang
yang cukup besar.

Gambar
2.4. Field Coil
Ujung kumparan
medan terhubung dengan terminal C pada solenoid dan ujung-ujung lainnya
dihubungkan dengan sikat. Ada 2 macam tipe magnet yang digunakan pada motor starter
yaitu kumparan medan dengan elektromagnetik dan magnet permanen.
Ada
beberapa jenis hubungan antara kumparan medan dan armature yang
digunakan untuk motor arus searah (DC) yaitu jenis gulungan seri, jenis gulungan
shunt (paralel), tipe gulungan compound atau campuran, dan
sekarang sudah ada gulungan yang menggunakan magnet permanen. Berikut
penjelasan tentang jenis-jenis hubungan kumparan medan dan armature yang
dipakai pada motor starter.
1) Motor dengan
Kumparan Medan Jenis Gulungan Seri

Gambar
2.5. Hubungan Seri Antara Kumparan Medan dengan Armature
Saat motor starter
bekerja arus mengalir melalui kumparan medan kemudian ke kumparan armature
dan ke massa melalui sikat. Ciri khas jenis ini adalah dapat memberikan
daya putar yang besar namun tidak membuat arus yang berlebihan pada beban
tinggi karena kecepatan putarannya dapat diatur secara otomatis sesuai dengan
besar bebannya. Namun demikian tanpa beban kecepatan putarannya akan sangat
tinggi sehingga motornya harus ditangani dengan benar agar tidak rusak. Karena
itulah jenis motor ini banyak digunakan untuk motor starter.
Karakteristik motor ini adalah sebagai berikut. Besarnya gaya putar pada motor
adalah sesuai dengan besar arus armature dan kekuatan medan magnet.
Kekuatan medan magnet ditentukan oleh arus kumparan medan dan arus armature.
2) Motor dengan
Kumparan Medan Jenis Gulungan Shunt

Gambar
2.6. Motor dengan Kumparan Medan Jenis Shunt
Kumparan armature
dan kumparan medan pada tipe ini dihubungan secara paralel. Sumber tegangan
diberikan kemasing-masing kumparan dan masing-masing kumparan mempunyai massa
sendiri. Kecepatan putaran motor jenis ini dapat di dengan mudah dengan mengatur
arus yang mengalir ke kumparan medan. Gulungan jenis ini dapat digunakan pada
motor dengan putaran yang tetap dan putarannya tidak akan berubah meskipun
bebannya beragam. Akselerasi dan deselerasi kecepatan motor nya bisa divariasi
tergantung dari arus kumparan medan. motor jenis ini digunakan untuk window
washer, cooling fan, power window dan sebagainya.
Kecepatan putaran
motor berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan kekuatan
medan magnet. Karena itulah ketika sumber power nya adalah baterai, maka
tegangannnya akan stabil dan medan magnet tidak berubah, sebagai akibatnya
ketika arus armature naik, maka tegangannya akan sedikit turun namun
kecepatan putarannya hampir tetap konstan.
3) Motor dengan
Kumparan Medan Jenis Gulungan Campuran

Gambar
2.7. Motor dengan Kumparan Medan Jenis Gulungan Campuran (Compound)
Motor starter tipe
ini kumparan armature dan satu kumparan medan dihubungkan secara seri
dan dihubungkan juga kekumparan medan lainnya secara paralel. Arah kutub pada
kedua kumparan medan ini adalah sama. Tipe ini adalah gabungan dari
karakteristik tipe seri dan tipe paralel.
Pada saat motor starter
melakukan start, motor ini mempunyai gaya putar yang besar seperti
yang dimiliki oleh tipe kumparan seri. Setelah di start, motor ini akan
berputar secara tetap seperti yang telah dimiliki oleh kumparan shunt.
Jadi motor jenis ini strukturnya lebih rumit dibandingkan dengan jenis seri,
motor jenis ini biasanya digunakan untuk jenis wiper.
4) Motor Jenis
Magnet Permanen

Gambar
2.8. Motor Jenis Magnet Permanen
Beberapa magnet
permanen dibuat dari campuran boron, neodinium, dan besi yang dipasang pda
rumah motor starter. Penggunaan magnet permanen dapat menghasilkan
rangkaian kumparan medan magnet dan mengurangi berat motor starter sampai
dengan 50%. Ciri utama motor jenis ini adalah ringan dan mempunyai daya magnet
yang kuat. Kumparan medan dan inti kutub sudah tidak ada lagi. Kebutuhan arus
listrik hanya digunakan untuk kumparan armature. Apabila arah arus
dibalik maka arah putaran motor starter juga berubah. Hal ini karena
arah kutub magnet permanen tidak berubah. Namun arah kutub armature dan
elektromagnetik dapat diubah sesuai dengan arah arus. Tipe motor ini juga
digunakan untuk windshield wiper motor, servo motor untuk
mengontrol kecepatan idle ECU engine, motor step, pompa bahan
bakar dan sebagainya.
c. Armature

Gambar
2.9. Armature
Armature
terdiri dari beberapa bagian yaitu poros armature, kumparan, inti armature
dan komutator. Plat besi yang tipis digabung menjadi satu bentuk inti armature.
Armature berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik
dalam bentuk gerak putar. Kumparan dililitkan pada inti armature dan
dihubungkan dengan inti komutator. Setiap segmen komutator diisolasi dari
segmen-segmen yang berada didekatnya. Sebuah poros baja dipasangkan pada lubang
tengah inti armature. Komutator terpasang pada poros tersebut dengan
diberi isolasi. Kedua ujung poros ditopang oleh bantalan dan dapat berputar
dengan bebas didalam yoke. Shaft pada armature terbuat
dari baja khusus agar tidak mudah patah, bengkok atau berubah akibat adanya
gaya yang besar. Poros armature mempunyai ulir atau spline dimana
pinion bisa meluncur.
Pada
daerah luar armature ada slot isolator untuk kumparan armature dengan
tujuan agar inti besinya tidak overheating. Inti besi pada armature akan
memperkuat medan magnet yang di hasilkan oleh kumparan armature. Besar
kecilnya kumparan armature akan mempengaruhi besar kecilnya arus yang
mengalir ke kumparan armature. Besar kecilnya arus akan mempengaruhi
kuat medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan armature sehingga akan
mempengaruhi besar kecilnya gaya putar yang dihasilkan.
Kumparan armature
dialiri arus yang besar sehingga terbuat dari konduktor persegi yang
digulung. Kumparan disisipkan kedalam slot yang sudah diisolasi dimana satu
ujung kumparan disolder ke satu segmen komutator dan satu ujung lainnya ke satu
segmen komutator lain. Karena itulah gaya putar yang dihasilkan dari
masing-masing kumparan pada saat arus nya mengalir akan menyebabkan armature
berputar. Bentuk inti besinya ditunjukkan pada gambar dibawah umumnya dua
kumparan disisipkan kedalam satu slot. Bahan untuk membungkus kumparan armature
adalah kertas mika, fiber, atau plastik.
d. Brush dan
Brush Holder

Gambar
2.10. Brush dan Brush Holder
Empat buah sikat
biasanya dipasang pada motor starter, dua untuk sikat positif dan dua
lagi untuk sikat negatif. Sikat atau brush sendiri berfungsi untuk
mengalirkan arus dari kumparan medan kekumparan armature (pada motor
dengan gulungan tipe seri) melalui komutator dan menyalurkan arus dari kumparan
armature melalui komutator ke massa. Dua sikat ditopang oleh pemegang
sikat berisolasi (disebut dengan sikat positif), dan dua sikat lainnya ditopang
oleh pemegang sikat yang terhubung dengan massa dan disebut sikat negatif.
Sikat terbuat dari karbon, karbon graphit (electrical graphitic carbon)
atau karbon graphit logam yang mempunyai kemampuan pelumasan dan kemampuan
mengalirkan arus listrik yang baik.
Motor
starter dialiri arus yang besar dan beroperasi dengan jangka waktu yang
pendek, maka bahan Metallic graphitic carbon untuk tegangan rendah dan
arus listrik besar biasanya dipakai oleh motor starter. Sikat Metallic
graphitic carbon terbuat dari bubuk tembaga dan graphite yang
mempunyai rasio tembaga sekitar 50-90%, sehingga tingkat tahananya rendah. Agar
sikat dapat mengalirkan arus ke kumparan armature melalui komutator,
sikat harus kontak dengan komutator. Kontak antara sikat dengan komutator
dijamin oleh pegas sikat yang dapat menjaga sikat selalu menempel dengan
komutator meskipun ada gerakan naik-turun akibat komutator yang kurang rata
atau faktor lainnya.
e. Komutator
Komutator
berfungsi untuk mengalirkan arus dari kumparan medan melalui sikat positif ke
kumparan armature dan dari kumparan armature ke sikat negatif.
Bentuk komutator yang terbuat dari plat tembaga yang disusun dalam bentuk
melingkar dengan isolator (mika) diantara plat-plat tersebut.

Gambar
2.11. Komutator
Kumparan armature
disolder pada plat komutator. Dengan cara tersebut maka arus dapat mengalir
dari sikat dalam satu arah kekumparan armature. Bagian dalam komutator
lebih tipis dari bagian luarnya. Untuk mencegah agar tidak mudah lepas, maka
komutator dipasangkan dengan mika berbentuk V atau ring penjepit
berbentuk V. Masing-masing plat potongan komutator dibungkus dengan mika yang
ketebalannya sekitar 1 mm dan diameternya 0.5-0.8 mm lebih kecil dari diameter
luar komutator. Selama berputar komutator selalu berhubungan dengan sikat yang
dialiri arus yang besar diantara sikat dan komutator. Karena itulah
temperaturnya lebih tinggi sehingga mudah aus.
f. Drive Lever

Gambar
2.12. Drive Lever
Tuas penggerak
berfungsi untuk mendorong gigi pinion agar bisa berkaitan dengan gigi roda
penerus (fly wheel) pada saat motor starter dioperasikan. Bagian
atas dari tuas penggerak ini dikaitkan dengan plunyer pada solenoid dan
bagian bawahnya berhubungan dengan hub pada kopling starter (overrunning
clutch). Gerak mendorong tuas tersebut berasal dari kaitan tuas plunyer
(stud bolt) pada solenoid.
g. Overrunning
Clutch atau Starter Clutch
Starter clutch berfungsi
untuk memindahkan momen puntir dari armature shaft ke fly whell sehingga
dapat berputar dan akan melepaskan dengan sendirinya bila putaran fly whell lebih
besar dari gear pinion. Ketika mesin dihidupkan pinion pada motor starter
dan fly wheel (ring gear) satu sama lainnya saling berkaitan dengan fly
wheel, maka sekarang fly wheel dapat memutarkan motor starter.
Karena roda gigi pada fly wheel jumlahnya jauh lebih banyak maka putaran
gigi pinion pada motor starter menjadi sangat tinggi. Hal ini dapat
merusak motor starter terutama pada bagian armature, bantalan (bearing),
komutator dan sikat (brush). Untuk mencegah kerusakan tersebut, maka
dipasang kopling starter yang bisa berputar dengan arah satu saja.
Artinya pada saat motor starter berputar gaya putar poros motor starter
dapat disalurkan ke fly wheel sehingga poros engkol dapat berputar,
tetapi saat mesin sudah hidup, mesin tidak dapat memutarkan motor starter,
kopling starter akan membebaskan putaran dari fly wheel ke motor starter.
Ada tiga jenis overrunning starter atau starter clutch yaitu :
1) Tipe Roller

Gambar
2.13. Starter Clutch Tipe Roller
Apabila motor starter
bekerja, poros armature akan memutarkan rumah kopling searah jarum
jam. Pegas pada kopling starter akan mendorong plunyer dan roller
bergerak ke kiri berlawanan dengan gerakan putar rumah kopling. Akibatnya, roller
akan terjepit di daerah yang sempit antar lubang roller pada rumah
kopling dan inner race. Karena roller terjepit, maka inner
race akan terkunci dan ikut berputar bersama-sama dengan rumah kopling.
Karena inner race menjadi satu kesatuan dengan gigi pinion, maka gigi
pinion akan berputar berputar dan menggerakkan fly wheel. Jika mesin
sudah hidup dan gigi pinion masih berhubungan dengan fly wheel, maka
sekarang fly wheel akan memutarkan gigi pinion dan inner race.
Gerakan putar inner race ini menyebabkan roller terdorong dan
bergerak ke arah kanan sehingga berada pada daerah lubang roller yang
longgar. Hal ini menyebabkan roller dapat berputar dengan bebas (roller
tidak terjepit) sehingga rumah kopling tidak ikut berputar, dengan demikian
kopling akan membebaskan/memutuskan putaran mesin ke motor starter.
2) Starter
Clutch Tipe Plat Bnyak

Gambar
2.14. Starter Clutch Tipe Plat Banyak
Spline dibentuk
sesuai dengan poros armature untuk menyesuaikan bentuk spline yang
ada di sisi dalam advance sleeve dan dapat bergerak meluncur. Plat
kopling penggerak digabungkan ke groove (ulir) pada advance sleeve.
Cara kerja kopling tipe plat banyak adalah sebagai berikut: pinion motor starter
didorong ke fly wheel oleh tuas pemindah (shift lever). Dalam
keadaan ini jika pinion tertahan, maka putaran poros armature disalurkan
ke advance sleeve sehingga advance sleeve terdorong ke arah
pinion melalui spline. Gaya dorong ini diteruskan dari adavance
sleeve ke pegas penggerak (driving spring) melalui plat kopling
sehingga plat penggerak tertekan. hal ini akan menghasilkan tekanan pada
permukaan kedua kopling dan menyalurkan gaya putar hasil gesekan pada keduanya.
Setelah mesin hidup, gaya putar pada pinion akan lebih cepat dari poros armature,
sehingga advance sleeve akan berputar dengan arah yang berlawanan dengan
pinion dan kedua plat kopling terbebas sehingga gaya putar mesin tidak akan
tersalurkan ke poros armature.
3) Starter Clutch Tipe Sprag

Gambar
2.15. Cara Kerja Starter Clutch Tipe Sprag
Kopling tipe ini
di gunakan untuk mesin-mesin berat, cara kerjanya adalah sebagai berikut: outer
race digerakkan oleh poros armature motor starter. Ketika
mesin dihidupkan, outer race dan inner race akan menyatu karena
gerakan outer race akan menyebabkan sprag terjepit diantara inner
dan outer race. Hal ini menyebabkan inner race berputar
secara bersamaan dengan outerrace. Saat mesin hidup dan fly wheel menggerakkan
pinion, inner race akan berputar lebih cepat dibanding outer race,
sehingga sprag akan terdorong oleh inner race dan menyebabkan sprag
tidak terjepit diantara inner dan outer race. Akibatnya inner
dan outer race akan saling terbebas dan putaran mesin tidak dapat
diteruskan ke motor starter.
h. Solenoid (Magnetic
Switch)

Gambar
2.16. Solenoid (Magnetic Switch)
Solenoid disebut
juga dengan magnetic switch. Pada solenoid terdapat 3 buah
terminal, yaitu terminal 30, terminal 50 dan terminal C. Terminal 50 adalah
terminal yang dihubungkan dengan ST (starter) pada kunci kontak.
Terminal 30 adalah terminal yang langsung di hubungkan dengan positif baterai
dengan menggunakan kabel yang cukup besar agar arus yang besar dapat mengalir
saat di- start. Pada model yang lain solenoid kadang mempunyai 4
buahterminal yaitu terminal 30, 50, C dan B. Terminal B biasanya dipasangkan
dengan terminal B pada koil pengapian yang mempunyai terminal B. Di dalam solenoid
terdapat dua buah kumparan yang disebut hold in coil dan pull in
coil.
1) Kumparan
Penarik (Pull In Coil)

Gambar
2.17. Kumparan Pull In Coil dan Hold In Coil yang Dialiri Arus
Kumparan ini
menghubungkan terminal 50 dan terminal C, bila kunci kontak dalam keadaan
tertutup, arus mengalir dari terminal 50 ke kumparan pull in coil kemudian
ke terminal C lalu ke massa (melalui kumparan pada motor starter). Pada
saat yang sama arus juga mengalir dari terminal 50 ke kumparan hold in coil kemudian
ke massa. Akibatnya akan terjadi medan magnet pada pull in coil dan hold
in coil sehingga plunyer tertarik. Tertariknya plunyer terutama
di akibatkan oleh medan magnet yang di hasilkan oleh pull in coil. Plunyer
dapat tertarik pada saat pull in coil di aliri arus, karena posisi plunyer
tidak simetris atau tidak ditengah kumparan sehingga saat terjadi medan
magnet pada pull in coil, plunyer akan tertarik dan bergerak (ke
kanan) sehingga plat kontak menempel menghubungkan terminal utama (30) dan
terminal penghubung (C).

Gambar
2.18. Plat Kontak Nempel dan Arus Mengalir Dari Terminal 30 ke C
Dengan kejadian
ini, maka terminal 30 dan terminal C akan terhubung secara langsung melalui
plat kontak. Pada sisi sebelah kiri plunyer dihubungkan dengan tuas
penggerak (drive lever) yang ikut tertarik oleh plunyer saat pull
in coil bekerja untuk mendorong gigi pinion bergerak maju berkaitan dengan
roda gigi penerus (fly wheel).
2) Kumparan
Penahan (Hold In Coil)
Kumparan ini
menghubungkan terminal 50 dan bodi solenoid. Fungsinya adalah untuk
menahan plunyer sehingga plat kontak tetap dapat menempel dengan
terminal utama dan terminal penghubung (menghubungkan terminal 30 dan terminal
C) . Hold in coil diperlukan karena pada saat plat kontak terhubung
dengan terminal 30 dan terminal C, maka tegangan di terminal C sama dengan
tegangan di terminal 50 dan terminal 30. Hal ini menyebabkan arus tidak
mengalir dari terminal 50 ke pull in coil dan kemagnetan pada pull in
coil menjadi hilang. Untuk mempertahankan posisi plat kontak tetap menempel
maka hold in coil berperan dengan tetap menghasilkan medan magnet
sehingga arus yang besar tetap dapat mengalir ke motor starter lewat
plat kontak (motor starter tetap berputar).

Gambar
2.19. Saat Kunci Kontak Terbuka
Apabila kunci
kontak dibuka (mesin sudah hidup), maka tidak ada arus yang mengalir ke
terminal 50, pada saat ini plat kontak masih menempel dan menghubungkan
terminal 30 dan terminal C. Arus mengalir dari terminal C ke kumparan pull
in coil, lalu ke kumparan hold in coil, kemudian ke massa. Arah
aliran arus pada ke dua kumparan tersebut berlawanan sehingga menghasilkan
medan magnet yang saling berlawanan, hal ini menyebabkan terjadinya
demagnetisasi atau saling menetralkan medan magnet sehingga plunyer akan
kembali keposisi asalnya karena terdorong oleh pegas pengembali.
2.5 Cara Kerja Motor Starter Tipe
Konvensional
Kerja sistem starter
ini dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu saat kunci kontak pada posisi start
(ST), saat gigi pinion berhubungan dengan gigi pada roda penerus (fly
wheel), dan saat kunci kontak kembali pada posisi ON atau IG,
Berikut akan dijelaskan cara kerja sistem starter pada tiap posisi :
a. Saat Kunci
Kontak Pada Posisi Start (ST)

Gambar
2.20. Kerja Sistem Starter Saat Kunci Kontak Posisi Start (ST)
Kunci kontak (ignition
switch) yang diputar pada posisi start menyebabkan terjadinya aliran
arus kekumparan penarik (pull-in coil) dan kekumparan penahan (hold-in
coil) yang secara bersamaan berikut adalah aliran arus ke masing-masing
kumparan tersebut :
1) Arus dari
baterai mengalir ke kunci kontak terminal 50 pada solenoid kumparan pull-in
coil terminal C kumparan medan (field coil) sikat positif kumparan armature
sikat negatif massa terbentuk medan magnet pada kumparan pull-in coil.
2) Arus dari
baterai mengalir ke kunci kontak terminal 50 pada solenoid kumparan hold-in
coil massa terbentuk medan magnet pada kumparan hold-in coil.
Aliran arus pada
kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in coil menyebabkan
terjadinya kemagnetan pada kedua kumparan tersebut. Letak plunyer di
dalam solenoid yang tidak simetris atau tidak berada ditengah kumparan
menyebabkan plunyer tertarik dan bergerak ke kanan melawan tekanan pegas
pengembali (return spring). Karena ada aliran arus (kecil) dari pull-in
coil ke kumparan medan dan ke kumparan armature, maka medan magnet
yang terbentuk pada kumparan medan dan armature lemah sehingga motor starter
berputar lambat. Pada saat plunyer tertarik, tuas penggerak (drive
lever) yang terpasang pada ujung plunyer juga akan tertarik ke arah
kanan. Bagian tengah tuas penggerak terdapat baut yang berfungsi sebagai engsel
sehingga tuas penggerak bagian bawah yang berkaitan dengan kopling starter (stater
clutch) bergerak ke kiri mendorng gigi pinion agar berkaitan dengan ring
gear. Pada kondisi plunyer tertarik (plat kontak belum menempel),
motor starter berputar lambat. Putaran lambat ini membantu gigi pinion
agar mudah masuk atau berkaitan dengan ring gear.
b. Saat Gigi
Pinion Berhubungan dengan Ring Gear

Gambar
2.21. Kerja Sistem Starter Saat Gigi Pinion Berhubungan
dengan
Ring Gear
Plunyer bergerak
ke kanan pada saat kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in coil menghasilkan
medan magnet. Gerakan ini menyebabkan gigi pinion berkaitan penuh dengan ring
gear dan plat kontak pada bagian ujung kanan plunyer menempel dengan
terminal utama pada solenoid sehingga pada terminal 30 dan terminal C
terhubung. Arus yang besar dapat mengalir melewati kedua terminal tersebut.
Pada keadaan ini tegangan di terminal 50 sama dengan tegangan di terminal 30
dan terminal C. Karena tegangan di terminal C sama dengan tegangan di terminal
50, maka tidak ada arus yang megalir ke kumparan pull-in coil dan
kemagnetan di kumparan tersebut hilang. Secara rinci aliran arus dalam keadaan
ini dijelaskan sebagai berikut.
1) Arus dari
baterai mengalir ke teminal 50 kumparan hold-in coil massa terbentuk
medan magnet pada kumparan hold-in coil.
2) Arus yang besar
dari baterai mengalir ke terminal 30 plat kontak terminal C kumparan medan
sikat positif komutator kumparan armature sikat negatif massa terbentuk
medan magnet yang sangat kuat pada kumparan medan dan kumparan armature sehingga
motor starter berputar.
Aliran arus yang
besar pada kumparan medan dan kumparan armature menyebabkan terjadinya
medan magnet yang sangat kuat sehingga motor starter berputar cepat dan
mengahasilkan tenaga kembali yang besar untuk memutarkan mesin. Medan magnet
pada kumparan pull-in coil dalam kondisi ini tidak terbentuk karena arus
tidak mengalir ke kumparan tersebut. Selama motor starter berputar plat
kontak harus ada dalam kondisi menempel dengan terminal utama pada solenoid.
Oleh sebab itu
pada kondisi ini kumparan hold-in coil tetap dialiri arus listrik
sehingga medan magnet yang terbentuk pada kumparan tersebut mampu menahan plunyer
dan plat kontak tetap menempel. Dengan demikian, meskipun kumparan pada pull-in
coil kemagnetannya hilang, plunyer masih dalam kondisi tertahan.
c. Saat Kunci
Kontak Kembali Ke Posisi ON (IG)

Gambar
2.22. Kerja Sistem Starter Saat Kunci Kontak Kembali ke Posisi ON
(IG)
Setelah mesin
hidup, maka kunci kontak dilepas dan posisinya kembali keposisi ON atau IG.
Namun demikian sasaat kunci kontak dilepas, plat kontak masih dalam kondisi
menempel. Pada keadaan ini terminal 50 tidak akan mendapatkan arus listrik dari
baterai. Aliran arus listrik pada kondisi ini dijelaskan sebagai berikut :
1) Arus dari
baterai mengalir ke terminal 30 plat kontak terminal C kumparan medan sikat
positif komutator kumparan armature sikat negatif massa masih terbentuk
medan magnet yang sangat kuat pada kumparan medan dan kumparan armature,
motor starter masih berputar.
2) Arus dari
baterai ke terminal 30 plat kontak terminal C kumparan pull-in coil kumparan
hold-in coil massa kumparan pull-in coil dan kumparan hold-in
coil menghasilkan medan magnet, namun arahnya berlawanan.
Seperti dijelaskan
pada aliran pertama, motor starter masih dialiri arus yang besar
sehingga pada saat ini motor starter masih berputar. Aliran arus seperti
yang dijelaskan pada aliran kedua, terjadi juga pada kumparan pull-in coil dan
kumparan hold-in coil. Dari penjelasan dari gambar tentang solenoid tampak
bahwa arus dari terminal C ke kumparan pada pull-in coil dan kumparan hold-in
coil arahnya berlawanan sehingga medan magnet yang dihasilkan juga akan
berlawanan arah kutubnya sehingga terjadi demagnetisasi atau saling
menghilangkan medan magnet yang terbentuk oleh kedua kumparan tesebut.
Akibatnya, tidak ada kekuatan medan magnet yang dapat menahan plunyer
sehingga plunyer akan bergerak kekiri dan kembali pada posisi semula
sehingga plat kontak terlepas dari terminal 30 dan terminal C. Arus yang besar
akan berhenti mengalir dan motor starter berhenti berputar.
2.6 Overhoul dan Perawatan Motor
Starter pada Toyota Kijang 4k
A. Overhoul Motor Starter Konvensional
Bahan dan Alat
yang Digunakan Dalam Proses Overhoul Motor Starter Tipe
Konvensional
a. Bahan
Bahan utama yang
digunakan dalam pembongkaran serta perawatan motor starter tipe
konvensional pada Toyota Kijang 4K adalah motor starter itu sendiri.
b. Alat
1) Kunci Ring dan
Kunci Pas
2) Obeng Plus (+)
dan Minus (-)
3) Multimeter/AVO
Meter
4) Jangka Sorong
5) Dial Test
Indicator
6) Amplas
7) Tang lancip
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B.
Langkah-Langkah Overhoul Motor Starter Tipe Konvensional Pada
Toyota Kijang 4K
a. Lepas kabel
kumparan medan yang terpasang pada terminal C solenoid dengan
menggunakan kunci ring 12. Kemudian lepas mur yang ada pada solenoid.

Gambar
3.1. Melepas Kabel Kumparan Medan
b. Lepas baut
utama motor starter dengan menggunakan kunci 8 ring / pas yang
sudah disediakan sebelumnya.

Gambar
3.2. Melepas Baut Utama Motor Starter
c. Lepas solenoid
dari motor starter dengan cara menggoyang-goyangkan solenoid agar
mudah terlepas.

Gambar
3.3. Melepas Solenoid dari Motor Starter
d. Lepas sekrup
dari ujung rumah belakang dengan menggunakan obeng.

Gambar
3.4. Melepas Sekrup dari Ujung Rumah Belakang
e. Lepas plat
pengunci, pegas dan karet yang ada di dalam tutup bos.

Gambar
3.5. Melepas Plat Pengunci
f. Lepas tutup
belakang motor starter

Gambar
3.6. Melepas Tutup Belakang Motor Starter
g. Lepas sikat dan
pemegang sikat.

Gambar
3.7. Melepas Sikat dan Pemegang Sikat
h. Lepaskan yoke

Gambar
3.8. Melepas Yoke
i.
Keluarkan armature dari rumah motor starter dengan cara membuka
tuas penggerak dari rumah penggerak pinion terlebih dahulu.

Gambar
3.9. Mengeluarkan Armature
j. Lepaskan baut
tuas penggerak

Gambar
3.10. Melepas Baut Tuas Penggerak
k. Lepaskan
kopling starter beserta roda gigi pinion dari ujung rumah penggerak

Gambar
3.11. Melepas Kopling Starter
l. Lepas pegas
pengembali dari solenoid

Gambar
3.12. Melepas pegas pengembali
m. Untuk memasang
kembali motor starter lakukanlah seperti langkah di atas dengan cara
terbalik (urutan terakhir terlebih dahulu).
C. Perawatan
Motor Starter Tipe Konvensional Pada Toyota Kijang 4K
Perawatan pada
motor starter dilakukan agar motor starter selalu dalam kondisi
baik dan mencegah dari kerusakan dan juga untuk deteksi dini apabila terjadi
kerusakan pada motor starter. Perawatan dapat dilakukan dengan cara
memeriksa komponen – komponen yang ada pada motor starter. Pemeriksaan
pada komponen – komponen pada motor starter memiliki urutan atau
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Armature
a. Periksa ujung
poros armature, bos rumah penggerak dan bos ujung kemungkinan aus atau
cacat. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya
kerusakan atau keausan yang terjadi pada armature.

Gambar
3.13. Memeriksa Ujung Poros Armature
b. Mengganti bos
dengan cara membuka tutup bos kemudian keluarkan bos. Cocokkan lubang bos
dengan alur rumah lalu pasang bos yang baru.

Gambar
3.14. Membuka Tutup Bos
c. Haluskan bos
untuk mendapat celah spesifikasi.

Gambar
3.15. Menghaluskan Bos
d. Bersihkan
lubang dan pasang tutup bos yang baru. Pembersihan ini bertujuan agar tidak ada
kotoran yang menempel pada bos sehingga bos selalu dalam keadaan baik.

Gambar
3.16. Memeriksa Tutup Bos
2. Pemeriksaan
Komutator
a. Gosok dengan
amplas jika terdapat permukaan yang kotor dan terbakar. Hal ini dilakukan agar
komutator selalu berada dalam kondisi baik dan dapat segera diperbaiki apabila
terjadi kerusakan pada komutator.

Gambar
3.17. Memeriksa Komutator
b. Ukur kedalaman
segmen mika dengan standar 0,4 – 0,8 dan limit 0,2. Pengukuran ini dilakukan
untuk mengetahui kedalaman segmen pada mika. Jika kedalaman mika kurang dari
limit maka mika harus diganti.

Gambar
3.18. Memeriksa Kedalaman Segmen Mika
c. Jika kedalaman
mika di bawah limit maka perbaiki dengan menggunakan mata gergaji besi.

Gambar
3.19. Memperbaiki Kedalaman Mika
d. Haluskan
pinggirnya dengan mata gergaji. Penghalusan ini dilakukan supaya sisi atau
pinggir dari armature mempunyai permukaan yang rata dan halus.

Gambar
3.20. Memeriksa Komutator
e. Gunakan amplas
#400 untuk membuang serpihan. Pembuangan serpihan ini bertujuan supaya kondisi
komutator selalu dalam keadaan baik dan juga bersih dari serpihan-serpihan yang
dapat mengganggu kerja komutator.

Gambar
3.21. Membersihkan Komutator
f. Perbaiki
kelonjongan (run out) menggunakan dial test indicator dengan
standar
0,02 mm limit 0.05
mm. Perbaikan ini dilakukan agar kelonjongan pada armature tidak kurang
dari limit dan selalu pada kondisi standar yang telah ditetapkan.

Gambar
3.22. Pengukuran Kelonjongan Armature
g. Ukur diameter
luar dengan menggunakan jangka sorong dengan ukuran standar 28,0 mm dan limit
27,0 mm. Hasil pengukuran 27,5 mm, standar 28,0 mm dan limit 27,0 mm.
Bandingkan hasil pengukuran kelonjongan dengan ketentuan pada buku petunjuk.
Jika terjadi keausan permukaan armature di bawah limit maka armature harus
diganti.

Gambar
3.23. Mengukur Lingkar Luar Armature
3. Pemeriksaan
Koil Armature
a. Periksa
komutator dengan inti koil armature dengan menggunakan multimeter yang
tersedia. Pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan arus yang terjadi antara komutator dengan inti koil armature karena
jika terdapat hubungan, armature kotak bodi harus diganti.

Gambar
3.24. Memeriksa Komutator
b. Periksa
hubungan antar segmen-segmen dengan menggunakan multimeter. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang terdapat antar segmen pada armature.
Jika tak terdapat hubungan pada setiap titik pengetesan, berarti terdapat
sirkuit terbuka dan armature harus diganti

Gambar
3.25. Memeriksa Hubungan Antar Segmen
4. Pemeriksaan
Koil Medan
a. Periksa koil
medan kemungkinan ada hubungan antara kawat-kawat ujung. Jika tidak ada
hubungan berarti ada yang terputus pada koil medan dan harus diganti.

Gambar
3.26. Memeriksa Koil Medan
b. Periksa
kemungkinan ada hubungan antara ujung koil medan dan frame medan dengan
menggunakan multimeter. Jika ada hubungan maka koil medan harus diganti.

Gambar
3.27. Memeriksa Hubungan Antara Koil Medan dan Frame Medan
5. Pemeriksaan
Sikat
a. Ukur panjang
sikat dengan menggunakan jangka sorong yang sudah disediakan sebelumnya. Ukuran
standar 13,5 mm dan limit 10 mm. Hasil pengukuran 12,5 mm. Jika panjang sikat
kurang dari limit maka sikat harus diganti..

Gambar
3.28. Mengukur Panjang Sikat
b. Periksa isolasi
antara pemegang sikat (-) dengan pemegang sikat (+) dengan menggunakan
multimeter. Lakukan perbaikan dan penggantian jika terdapat hubungan.

Gambar
3.29. Memeriksa Isolasi Pemegang Sikat (-) dan (+)
c. Periksa tuas
penggerak dan pegas kemugkinan aus. Ganti jika ada keausan

Gambar
3.30. Memeriksa Tuas Penggerak
6. Pemeriksaan
Kopling Starter dan Roda Gigi Pinion
a. Periksa ulir
gigi kemungkinan aus atau cacat dan periksa pinion dengan cara diputar searah
dengan jarum jam apakah bergerak dengan lembut atau tidak.

Gambar
3.31. Memeriksa Ulir Gigi Kopling Starte
b. Periksa gigi dan alur dari roda
gigi kemungkinan aus atau cacat

Gambar
3.32. Memeriksa Gigi dan Alur Roda Gigi
c. Putar pinion.
Pinion harus berputar dengan bebas searah jarum jam tetapi tetap terkunci jika
diputar pada arah yang berlawanan.

Gambar
3.33. Memutar Pinion Searah Jarum Jam
7. Pemeriksaan Swit
Magnet
a. Tekan plunyer
lalu dilepas. Plunyer harus berputar balik dengan segera setelah
dilepas ke posisi semula

Gambar
3.34. Memeriksa Plunyer
b. Periksa
kemungkinan terdapat hubungan antara terminal 50 dan terminal C dengan
menggunakan multimeter.

Gambar
3.35. Memeriksa Hubungan Antara Terminal 50 dengan Terminal C
c. Periksa
kemungkinan terdapat hubungan antara terminal 50 dan body swit dengan
menggunakan multimeter.

Gambar
3.36. Memeriksa Hubungan Antara Terminal 50 dengan Body Switch
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dengan melakukan
perawatan berkala kerusakan pada komponen dapat segera diketahui dan pengendara
kendaraan tersebut dapat terhindar dari resiko kerusakan yang parah. Selain itu, penulis juga menjadi tahu
bagaimana cara kerja dari motor starter tersebut, komponen motor starter,
dan juga mengetahui tujuan dari pembongkaran serta perawatan motor starter.
Pada motor starter mobil kijang, perawatannya tergolong mudah dan
komponen pada mobil tersebut cukup banyak dipasaran. Dan yang terpenting untuk
menjaga agar kerja motor starter tetap baik maka bila terjadi kerusakan
ataupun keausan pada komponen-komponen motor starter tersebut haruslah
segera diperbaiki ataupun diganti untuk mencegah kerusakan menjadi semakin
parah. Hal tersebut dikarenakan bahwa motor starter merupakan suatu
komponen yang ada pada kendaraan yang berfungsi untuk menghidupkan mesin untuk
pertama kalinya dengan cara mengubah energi listrik menjadi tenaga putar. Jika
motor starter tidak dapat berfungsi secara optimal maka mesin kendaraan
pun akan sulit untuk dihidupkan atau dijalankan.
DAFTAR PUSTAKA
A Toliyat, Hamid dan Gerald B. Kliman. (2012). Handbook of Electric
Motors. CRC Press: United State of America.
Boentarto (2009). Cara Pemeriksaan, Penyetelan, Dan Perawatan
Kelistrikan Mobil. Andi. Yogyakarta.
Daryanto (2010). Teknik Servis
Mobil. Rineka Cipta. Jakarta.
Denton, Tom. (2013). Automobile
Electrical and Electronic Systems. Routledge.
Sholikhin, Hadi. (2006). Analisis Dan Trouble Shooting Kerja Motor
Starter Tipe Reduksi Pada Mitsubishi L300 Diesel. Fakultas Teknik
Universitas Negeri Semarang: Semarang.
Toyota Astra Motor. (1996). New
Step I. Jakarta: PT Toyota Astra Motor.
Toyota Astra Motor. (1996). Toyota Pedoman Reparasi Mesin
Seri K. Jakarta: PT Toyota Astra Motor.

Komentar
Posting Komentar